Minggu, 14 September 2014

Mata Terkurung


Minggu// 14 September 2014 // 16.08

Matahari sedang panas-panas tersenyum
dan aku duduk disini sendiri sambil memeluk segelas air yang tidak lekas aku minum
sambil sedikit melamun, apa kabar kamu yang ada jauh disana?
apakah sudah makan atau minum?
atau mungkin sedang tersenyum?

Sedikit gombal,
atau memang perasaan yang tidak bisa ditambal
rindu yang datang tidak bisa terbendung,
bahkan yang tadinya panas, jadi seperti mendung
aku yang tadinya ikutan tersenyum jadi sedikit murung
karena kamu yang jauh disana tidak kulihat
mataku seperti dikurung

dikurung hingga aku merasa gelap dan tidak bisa kemana-mana 
menunggu hingga waktu dibuka 
dan diberi senyum lebar sedikit tawa

Jumat, 12 September 2014

Pulang




Malam belum sepenuhnya jatuh
dan pagi pun belum seutuhnya bangkit
"Selamat pagi Malam!"
aku terbangun dengan senyuman hangat yang kamu lemparkan

pagi ini aku memacu kuda besiku mengantarmu yang ingin pulang 
ke tempat dimana kamu lahir dan menghabiskan waktu sekolah dan waktu luang
"Yeayy aku pulang!"
begitu sorakmu hampir setiap hari sebelum hari ini akhirnya kamu berangkat dan pergi membawa tas sebesar perut beruang.

aku yang mengantar kamu cuma bisa tersenyum kecut seraya berkata, 
have a safe flight ya pacar, segera beri kabar.

lalu aku kembali ke rumah, dan menghabiskan sabtu ini tanpa keluar rumah, 
karena kamu yang berpesan jangan kemana-mana, daripada nanti kamu marah!

Kepala melintir



Kepalaku sebesar bola basket,
mungkin akan membuat kaget karena Isinya berbicara soal target,
Musik, buku, mobil, cinta, dan toilet,
Namun kalau boleh buka sedikit rahasia,
Cuma kamu yang paling banyak dipikiran dan paling lengket.

Semingguan ini, pikiranku melar seperti karet,
Pekerjaan yang datang begitu banyak dan mepet,
Hingga bulan 7 yang harus dipenuhi karena sudah di target.
Terpikir banyak tentang target yang akan meleset,
Tapi jangan panggil aku si pemikir,
Jika tidak ada cara untuk mencari jalan lain.

Untuk Kamu yang selalu setia duduk di sebelah kiri disamping aku yang sedang menyetir, aku mau kamu tetap duduk manis disitu menemani aku berpikir, sambil sedikit mengelus kepalaku yang penuh dan melintir.

Cerita apa kita

Cerita apa kita?
Mungkin kata-kata ini sudah menjadi auto-text saat aku mencoba merayu agar kamu mau bercerita.
Bukan, bukan baru kemarin sore kulontarkan pertanyaan ini
Sedari awal kita bertemu, dan masih berdiri sendiri-sendiri
Pertanyaan ini sudah menjadi favorit dan punya melodi tersendiri.

Tidak bosan kuulang pertanyaan ini 3 kali sehari
Meski kuyakin kupingmu memerah, panas sedikit nyeri,
Akhirnya aku juga yang mulai berbicara
Dan kamu hanya mendengar sambil menghirup udara.
Huhh . . .

Untuk kamu yang sudah mulai belajar berbicara,
Cobalah lihat sekeliling dan mencari cara
Agar aku tidak bingung, kamu ini kok diam sedikit cari gara-gara.

J.

Senin, 11 Agustus 2014

Duduk, Siang, Petang, Setengah Matang, Matang


Kita duduk berdua di suatu siang, diatas tumpukan gumpalan busa
aku memulai cerita dari tanah hingga luar angkasa,
kulihat dari sorot matamu kau terlihat tersiksa, 
dengan ocehanku yang banyak dan tidak biasa

Lalu kita pergi makan, ke sebuah warung sate biasa
yang biasa kau santap saat aku jauh ada disana
ketika aku lelah mengunyah, 
kau terlihat masih bersemangat berbicara dengan daging dan si kuah

Petang mulai datang
dan aku harus pulang
tidak rela karena pembicaraan kita soal sesuatu yang serius ini,
kurang matang

tapi yasudahlah mungkin esok aku akan datang 
dan semua jadi semakin matang

Minggu, 29 Juni 2014

Satu Sinyal Beda Tower


mungkin kita punya telepati
kamu dan aku tersambung
tanpa ada pending
satu sinyal, beda tower
meski kadang sinyal masih bobo saat kita sudah tersadar
aku agak memaksa untuk kamu tidak dadah dan bertemu air segar :)

tentang kantuk


suara jangkrik terdengar di sekitar alam
mengawal hari terang menuju malam
mentari yang sedari pagi terang benderang
cahayanya melemah dan temaram

tubuhku berjalan lunglai
aku mencoba bertahan tak terkulai 
kantuk menggelayut manja di punggung
aku seperti menimang gunung

aku berusaha tak terlelap

tak kuasa

dan aku berakhir terhempas di pelukan busa!

GPS



Di bayangan semua orang tempat kamu ini jauh
berapa lama harus sampai kesini? tanya seorang kawan
1 jam 20 menit ujarku, lebih cepat ketimbang ke utara jakarta


Waktu itu,
Mungkin  kamu tak sadari, aku mencuri waktu untuk bertemu
walau pekerjaan sampingan yang melelahkan 
dan menguras tenaga
tak apalah, yang penting harus bertemu meski cuma duduk dan makan es krim.

sekarang
aku sudah men-set GPS ku selalu kesini
dan akan selalu kesini

hati bentuk simetri


Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang agak berat
bukan karena semalam teralu banyak minum 
tapi karena agak sedikit bingung
aku tersenyum-tersenyum
hari ini petualangan baru akan dimulai
dengan dia yang baru saja semalam setuju untuk memulai

Tidak banyak yang berbeda dengan kemarin,
pagi ini aku tetap bangun pagi, ke kamar mandi,
lalu berlari kebawah mengambil roti
tapi entah kenapa aku merasa sudah tidak sendiri,
ada perempuan yang berdiri di sisi
sambil tersenyum berkata selamat pagi.

meski agak jauh disana
dan aku disini
satu hal yang pasti ehhmm,
kamu selalu ada disini
dibawah janggut, agak ke kiri
satu jengkal kebawah, tepat dihati.
tidak lupa juga didalam kaca,
ponsel pintar yang layarnya simetri.



5x24


Selamat hari senin pagi, masih ada selasa, rabu, kamis, jumat.
tulisku di dinding salah satu sosial media miliku.
ungkapan ini terkesan klise tanpa makna, semua orang juga nunggu-nunggu jumat, 
tapi buatku agak sedikit berbeda. 
ada yang kutunggu datang!

Dia yang mungkin hanya tersenyum saat aku bercerita,
atau melempar auk ahh saat mentok, tidak ada berita
yang pasti jangan ganggu jumat, sabtu, minggu
karena kalian akan berhadapan denganku!
yang menunggu 5x24 jam, hanya untuk melempar senyum dan berkata
hai pacar! 

J.

Minggu, 30 Maret 2014

3 kotak hidup manusia

ngablu yang kujalani hari ini membawa aku ke suatu kesimpulan,bahwa manusia memikul 3 kotak berbeda selama hidupnya. 3 kotak yang saling mengait, walau keterkaitan ketiganya terkadang pahit

kotak pertama
aku menyebutnya kotak pemberian, kotak yang berisi segala yang diberikan secara cuma-cuma, tanpa bayar oleh sang Maha Pencipta. Dia memberikan kotak ini agar kita dapat memulai kehidupan yang keras nan tak waras di dunia ini. kotak ini sebagai modal awal dan titik tolak menuju kepada kotak selanjutnya.
kotak ini berisi keluarga yang memeluk hangat dan memberikan kebutuhan fisik dan rohani.

kotak kedua
aku menyebutnya kotak pencarian, kotak ini berisi apa saja yang harus dan akan kita cari di dunia. sebagai manusia yang harus terus hidup kita akan mencari segala hal untuk tetap bertahan hidup. pekerjaan, uang,kehormatan,kekuasaaan, semua harus dicari. dan semua tidak mudah untuk didapat dan dipertahankan. satu hal yang juga masuk kedalam kotak pencarian, adalah cinta. dari segala hal yang masuk kedalam kotak pencarian, cinta adalah hal yang terberat. bukan tidak mungkin, tetapi tidak mudah.

kotak ketiga
aku menyebutnya kotak pelepasan, kotak ini berisi apa yang ingin dilepaskan. apa yang tidak bisa terlepaskan di kotak kedua, dan pertama. didalam kotak ini berisi kehidupan sosial. interaksi yang dibangun diluar kotak pertama, dan kedua. aktualisasi diri akan tergambar secara aktual. kecintaan akan sesuatu hal akan terlihat disini. ketika masuk kedalam kotak ketiga, tidak akan lagi terlihat wujud asli dari seorang anak manusia. mereka akan memakai topeng kelinci dengan jubah serigala. mereka akan berteriak keras, melolong kesetanan, bahkan tertawa dengan sangat sunyi. 

ketiga kotak tersebut harusnya mengait, keterikatan ketiganya akan membentuk sebuah karakter unik dari sesosok manusia. namun sulit untuk mengaitkan ketiganya, gesekan-gesakan antara ketiga kotak tersebut menimbulkan perpecahan didalam diri seseorang. disaat dia mengejar kotak kedua dengan sangat giat kotak pertama dan ketiga akan dilemparnya jauh kedalam lubang, karena dia merasa berat memikul 2 kotak yang lain. 

satu hal yang sangat pasti, seorang manusia tidak akan pernah bisa menang di banyak sisi. banyak hal yang harus dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu. bukan berarti dengan mengorbankan, menjadi tidak peduli, namun mengurangi porsi.

gestur mendayu

tarian bulu matamu merayu meningkahi gurat senyum tumpulmu
gestur tubuh, lincah gerakmu mendayu-dayu
tatap tajam sorot matamu membuatku kaku
mampukah aku menaklukanmu?

kebiri memori


memori harus dikebiri
jauhkan sejauhya dari lemari
jangan kau coba simpan 
lalu kau partisi


memori tak seharusnya ditangisi
dan jangan diberi hati
biarkan dia nyeri dan perlahan mati


mati!

hei anak manusia!


hei anak manusia!

tidak lelahkah engkau terus berkelakar sepanjang hari?
membahas ratusan topik ide dan materi
dari akar hingga zakar!

hei anak manusia!

tahukah kamu darimana kamu berasal?
rahim ibumu 
ataukah batu?

hei anak manusia!

tahukah kau apa itu hidup?
apa itu mati?
atau semua memang tak berarti?

hei anak manusia

tahukah kau apa itu cinta?
apa itu perih?
atau semua membuatmu sedih?

Hei anak manusia!

tahukah kau apa itu realita?
apa itu imajinasi?
atau memang semua hanya fantasi?

Hei anak manusia!

tahukah kau apa itu bersetubuh?
apa itu bercinta?
atau memang hanya sebuah rekreasi?


hei anak manusia!

tidak lelahkah engkau terus berkelakar sepanjang hari?
membahas ratusan topik ide dan materi
dari akar hingga zakar!

catatan kecil #1


Ketika storyline cerita berubah,
storyboard berubah,
shotlist berubah,
akhir cerita berubah.

komposisi nikmat


Mengkosntruksi kata menjadi kalimat, hingga terdengar seksi menjadi nikmat!
bukan sekedar komposisi semu membuat jemu lalu hilang entah kemana!kan kujatuhkan euforia, lalu terangkat perlahan!orgasme hingga teriak kegirangan!

berhenti


aku akan berhenti dari industri ini 10 tahun lagi!
pergi dengan dia ke gunung sepi, 
dengan sedikit harap untuk terus dapat menari sepanjang hari
menulis tak henti tanpa peduli menulis apa, 
dibaca siapa, dan siapa yang beli!
beberapa orang tertawa geli, 
aku ikut tertawa geli, tapi lalu berhenti!
dengan lantang aku berkata, 
kalian tidak tahu, aku akan menjadi si peternak kata!

satu titik hilang


Garis horison yang memudar,
menjadi seperti titik tanpa batas
Aku melihat keatas, 
apakah masih ada yang tertinggal dan tidak pudar
aku tersadar, 
memang sudah waktunya dia berhenti cemerlang
diganti langit terang, dengan sedikit bintang.

Melempar Dadu



Mungkin sekarang saat yang tepat,
melempar dadu, 
dan segera bertanya apa kabar diriku!
apakah sanggup menahan rasa ingin tahu!
atau sudah tidak peduli dan tidak mau tahu!
aku berpikir jika memang dia untukku, 
ya sudah memang waktu,
yang akan berjalan di depan dan memandu!

jika día tidak mau,
tidak melihat, duduk lalu diam,
aku tidak akan memaksa,
mungkin aku akan terjatuh, 
dan beberapa orang menggendong, menepuk bahu!
bangun bung!
dia sudah tiada!

Minggu, 23 Maret 2014

titik awal


Agak terkejut . . . 
sedikit kejut-kejut
tapi aku memaksa untuk terus lanjut.

kamu bercerita tentang 3 kota berbeda, dalam tempo singkat,
aku hampir lupa dan tidak mengingat.

menghabiskan waktu di rumah bertingkat
di kota dimana papaku 25 tahun bersiap berangkat.

lalu pergi bekerja di sebuah gedung bertingkat, di kota yang tidak jauh dari jakarta,
tempat ku diam menetap, sambil merangkai kata.

Halu.si.nasi


senang tidak seharusnya hambar!
bahagia harusnya penuh gambar!
namun ketika sedih datang dan menghajar,
aku hanya duduk diam lalu belajar!

sedih tidak seharusnya dipeluk pedih 
perih yang sedikit nyeri
diam-diam mengajak menari
pelan-pelan aku berjalan lalu berlari

terang tidak dipeluk terawang
pikiran dibalut angan
jika memang ada obat untuk bertahan
mungkin pergi ke gili trawang untuk mengawang!

Menunggu


Angin dingin berhembus dari sisi kiri, 
menggoda aku yang sedang duduk untuk berdiri.
menunggu sendiri untuk dia yang seharusnya sudah datang daritadi.

Tentang Minyak


Mungkin kamu tahu darimana asal minyak!
tapi tidak tahu kalau minyak tersebut terganggu ketika tidur nyenyak
suara bising, desing yang buat merinding
terus bekerja tanpa peduli bahwa mereka adalah mahluk asing
dia tidak terganggu, karena sadar dirinya adalah bahan baku!
dia hanya diam terbujur kaku, menunggu saat untuk dipindahkan dan memiliki rumah baru.

99km


Belum lama berkenalan. 
mungkin baru terlewatkan 3 kali kotbah minggu.
3 kali pulang tak ingat arah,
namun kau sudah ada didalam darah.


Menurut data GPS, kita hanya terpisah 99km
jarak yang cukup jauh jika harus ditempuh berjalan kaki tanpa sendal,
aku berpikir sedikit nakal dan mencoba mencuri waktu untuk sekedar datang dan berucap salam kenal.


J

Spasi


Aku butuh spasi, kamu butuh spasi
bahkan kalimat tanpa spasi seperti makan tanpa nasi
dari pemikiran ini, aku tahu
teralu banyak cakap dan interogasi, 
membuat jenuh penuh peluh
setiap saat aku bernarasi,
dan kamu hanya diam tanpa peduli, kamu tertidur wajahmu pucat pasi
baiklah, ini saat yang tepat memberi kamu tombol panjang di bagian bawah keyboard yang kugunakan bekerja

SPASI!